Kruger Barbara dan Futura

oleh : Moehammad Setiawan

“Your Body is Battleground” menjadi phrase paling memorable untuk saya personal mengawali perkenalan dengan karya grafis hitam-putih, berbingkai merah, dengan tulisan tebal ditengah. Saya tak tau itu dari siapa, malah lebih diingat jika itu berasal dari kawan saya sendiri yang menjadikan karya itu jadi thumbnail tulisannya.

Selanjutnya saya baru tahu jika Barbara Kruger jadi biang dibalik poster itu. Yang jika ditelusuri selanjutnya karyanya memang berkarakter kuat, hampir punya benang merah jelas dari satu karya ke karya lainnya, selanjutnya lagi saya baru ketahui jika font yang dia gunakan adalah Futura. Cukup jauh selang waktu dari perkenalan pertama sebenarnya.

Sadar tau tidak, pernah hitung berapa persen font yang kamu sering pakai dari ratusan font yang kamu install di perangkatmu? 6 Tahun terakhir begitu intens dengan pekerjaan grafis, tahapan memilih font dengan bijak jadi memang perkara penting, di lain sisi tentu tuntutan deadline kadang memang berkata lain, menyadarkan akhirnya jika kita selalu menggunakan font yang kurang lebih sama: font yang paling cepat terpikirkan saja lah.

Entah kenapa, bertahun terakhir begitu nyaman dengan “Euphemia” ketika menulis artikel, di Ms. Word. Ketika pindah ke Photoshop, selalu terbayang beberapa font handwritten ketika bertemu title, typelogo semisal. “Lobster” ketika klien meminta desainnya agak retro, “Trajan” pada sertifikat, “Nexa” atau mungkin “Museo” ketika klien lebih condong agak meminta lebih flat dan modern, “Arial”? Jangan tanya, Arial Black selalu menjadi jawaban untuk yang memang selalu meminta “ndak usah terlalu rame, yang simple saja” pada brainstorm awal, atau malah jika mereka cukup berumur. Tak kelewatan “Myriad Pro” selain memang official font salahsatu Bank BUMN utama, Keluarga Besar Myriad Pro selalu bisa menempatkan posisinya pada setiap desain. Dan terakhir tidak bisa tidak entah bagaimana font “Crass” begitu punk untuk hal terkait akannya.  Semenjak memang desain grafis adalah bagian dari medium komunikasi, memilih jenis font tak juga bisa disepelehkan, salahsatu yang utama akan menentukan message dimaksud akan sampai atau malah tidak, dari komunikator ke komunikan.

Lupa bertemu Futura itu kenapa dan bagaimananya, mengetahui selanjutnya jika Futura juga adalah keluarga besar, Medium dan Book-nya memang pas untuk text, Bold mungkin subjudul, dan Extra Bold-nya tak pernah memberi keraguan ketika butuh headline ataupun kata itu menjadi memang benar-benar terlihat, jelas dan spotlight.

Futura adalah Geometric Sans-Serif dibuat tahun 1924 oleh desainer German, Paul Renner. Douglass Thomas, seorang perancang, sejarawan dan asisten profesor desain grafis di Universitas Brigham Young mengatakan Renner ingin merancang tipografi khusus untuk industri, menghilangkan semua ornamen. Menggabungkan elemen klasik Romawi dengan geometri sederhana: lingkaran, segitiga dan persegi. “Dia mencoba menjawab banyak pertanyaan yang sama seperti orang sezamannya di Bauhaus, seperti Josef Albers dan Herbet Bayer yang juga membuat tipografi eksprimental berdasarkan geometri.” tambah Thomas.

Stephanie Exkardt, reporter W Magazine mendatangi Coleman Skatepark, sehari setelah instalasi Barbara Kruger berjudul “Untitled (Skate)” dipasang. Landon, salahsatu anak usia 15 Tahun yang sering disana bilang tak pernah tau Kruger, tapi berkata jika itu tulisan-tulisan yang sekarang menempel di ramp dan berbagai sudut skatepark mereka itu begitu familiar, ketika ditanya apakah itu mengingatkannya ke Supreme, “Yah, tapi aku tak mau berkata itu” jawabnya sedikit malu.

Ini satu dari dua projek Barbara Kruger di bulan yang sama yang berhubungan dengan apparel skate. Projek kedua sebuah performance art dan pameran, menampilkan berbagai produk tentu dengan permainan kata ala Kruger. Kedua selalu dikaitkan akan sikap Kruger pada Supreme. Kruger mengkonfirmasi dengan tegas menolak itu jika dibilang sebagai sikap dia terhadap Supreme.

Semenjak mulai berdiri dan meraup berekspansi biliunan dollar tahun 1994, Supreme memang dengan jelas merekonsktruksi karakter Kruger : Futura Font warna putih dengan background merah. Kruger tak mempermasalahkan ini, selain “Supreme Bitch” yang sempat begitu mengesalkan, sampai Supreme mengganti format desainnya.

Tapi tentu Kruger juga tak sepenuhnya menolak ketika projek-projek terakhiran ini selalu dikaitkan dengan itu, menantang balik Supreme Kruger bilang : “What a ridiculous clusterfuck of totally uncool jokers. I make my work about this kind of sadly foolish farce. I’m waiting for all of them to sue me for copyright infringement.”

Supreme bukan yang pertama menggunakan Futura sebenarnya, akhir tahuan 80an dan masuk ke 90an, Futura pernah diboikot sebagai typeface yang terlalu banyak digunakan sepanjang sejarah periklanan. Nike dan Absolut Vodka sedikit dari yang terbesar. Sebelum akhirnya Barbara Kruger, Jenny Holzer dan the Guerrilla Girls merekonstruksi image ini ke ranah propaganda melawan kapitalisme.

Tak ada alasan lain selain Culture Jaming: menggunakan bahasa yang sama dengan periklanan konsumerisme dan kapitalisme untuk mengiklankan balik kritik terhadapnya. Kruger berangkat penuh dari sini, menggunakan image yang sama untuk menyerang balik, dalam tema besar konsumerisme, kapitalisme dan patriarki melalui gambar hitam-putih, berbingkai merah, tulisan Bold berkotak merah di tengah. Kruger punya gayanya sendiri yang tak bisa dilewatkan begitu saja.

Kadang memang Desain Grafis dan Karya Visual dalam turunan ilmu komunikasi lebih bisa digunakan sebagai medium propaganda art, setidaknya propaganda art kebanyakan yang ada dan konkrit selalu lebih condong ke sana dibanding ke sayap seni murni. Menggabungkan font, typeface dan visual berupa photo atau karya gambar lain kadang memang jauh lebih lantang. Kruger membuktikannya.

Culture Jaming, membalikkan logika citra periklanan populer untuk dibalikan ke mereka lagi sebagai sebuah kritik keras akan cacatnya logika itu sendiri juga kadang dan kebanyakan memang selalu jadi pilihan dari medium Propaganda Visual. Kruger membuktikannya lagi. Secara telak malah.